Inter Milan menutup musim 2025/2026 dengan pesta trofi. Dua partai final, dua kemenangan, dan dua gelar langsung disapu bersih. Yang membuatnya luar biasa: semua ini adalah musim perdana Cristian Chivu sebagai pelatih kepala.
Pria asal Rumania itu resmi menggantikan Simone Inzaghi musim panas lalu, langkah yang sempat diragukan banyak pihak. Namun Chivu membungkam kritik dengan gaya kepelatihan yang cerdas. Setelah memastikan Scudetto dua pekan lalu, ia memimpin Inter menaklukkan Lazio 2-0 di final Coppa Italia, Kamis (14/05/2026) dini hari WIB.
Gol dari Marcus Thuram dan Nicolò Barella menjadi penutup sempurna musim debut Chivu. Selepas laga, mantan bek AS Roma dan Inter itu berbicara dengan nada tegas.
“Sukses ini tidak boleh dianggap remeh,” ujar Chivu. “Orang bisa bilang saya mewarisi tim bagus, tapi mempertahankan motivasi dan memenangkan dua kompetisi di musim pertama sebagai pelatih adalah tantangan besar. Kami bekerja mati-matian.”
Chivu memang mewarisi skuad juara, tetapi ia juga melakukan sejumlah terobosan berani: memberikan kepercayaan penuh pada Kristjan Asllani, menggeser posisi Alessandro Bastoni menjadi hybrid centre-back, serta memperkenalkan pola rotasi yang membuat tim tetap segar di akhir musim. Hasilnya, Inter hanya kalah dua kali di Serie A sepanjang musim.
Yang membuat pencapaian ini langka adalah fakta bahwa hanya sedikit eks pemain yang langsung sukses sebagai pelatih di klub yang sama. Antonio Conte dan Roberto Mancini pun butuh waktu lebih dari satu musim untuk meraih double. Chivu melakukannya di tahun pertama.
Kemenangan atas Lazio bukan hanya soal trofi, tapi bukti bahwa filosofi Chivu—disiplin kolektif, transisi cepat, dan kepercayaan pada pemain muda—bekerja sejak hari pertama.
Di sisi lain, Chivu juga menolak anggapan bahwa Scudetto kali ini mudah karena kelemahan lawan. “Juara tetaplah juara. Kami mengalahkan Napoli, Juventus, dan Milan di jalur krusial. Tidak ada yang instan.”
Dengan dua gelar di musim perdana, Chivu kini sejajar dengan legenda seperti Helenio Herrera dan José Mourinho yang juga meraih double di awal periode keemasan mereka. Yang membedakan, Chivu melakukannya tanpa belanja besar. Ia hanya meracik ulang bahan yang ada, lalu menambahkan bumbu keberanian.
Langkah selanjutnya? Chivu sudah mengisyaratkan target Liga Champions musim depan. Tapi untuk malam ini, ia pantas menikmati sorak ribuan Interisti yang kini memanggilnya “Mister Double”.
Sukses Chivu mengingatkan kita: dalam sepak bola, meremehkan debutan adalah kesalahan besar. Terkadang, seorang ex-player justru memahami denyut nadi klub lebih dalam dari siapa pun.